Characteristic Of the City Of Bogor
Characteristic Of the City Of Bogor
Bogor
adalah kota yang sangat menarik dan berkesan untuk saya bahas dalam tugas ini.
Kota yang dulunya memiliki budaya Sunda kini telah menjadi kota metropolitan
yang menarik banyak pendatang dari berbagai daerah. Kota ini bernama
Buintenzorg pada masa penjajahan Belanda dan merupakan pusat pemerintahan pada
masa penjajahan Hindia Belanda. Istana Bogor merupakan salah satu peninggalan
fisik kota yang dibangun pada masa penjajahan. Terlihat bahwa penentuan
bangunan ini dan ciri arsitekturnya juga dipengaruhi oleh budaya tradisional
Sunda, kolonialisme kolonial, dan modernitas kota.
Sebelum
saya membahas tentang Kota Bogor, perlu anda ketahui bahwa Kota Bogor sering di
sebut dengan “Kota Hujan” karena hal yang paling menonjol dan melekat pada Kota
Bogor ialah curah hujan yang tinggi. Mengingat kedekatan Kota Bogor dengan
beberapa sungai sehingga aman terkena banjir.
Kediaman
resmi Kota Bogor adalah Kerajaan Tarumanegara pada Ke-5. Dalam kurun waktu yang
sama, beberapa kerajaan memantapkan diri di Kota Bogor karena wilayah tersebut
menguntungkan untuk meredam keributan. Selain itu, Kota Bogor pada saat itu
berada di pinggiran kota dan memiliki akses yang mudah ke pasar perdagangan.
oleh Karena itu, penduduk banyak yang bermukim di kawasan ini.
Di
lihat dari ciri khas Kota Bogor yang paling umum dikenal yaitu pariwisatanya.
Sebagian besar dari kita mungkin pernah mengunjungi beberapa tempat wisata di
kota Hujan ini. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Bogor merupakan kota yang aktif
memperjuangkan kemerdekaan wilayah sekitarnya. Kota ini masih sangat menjaga
keindahannya, Jika kita amati di pinggir jalan Kota Bogor, pohon, rumput, dan
semak tersebar di sepanjang jalan, yang berguna untuk melestarikan suasana
kota.
Ciri
khas lainnya yang sangat menonjol dari Kota Bogor yaitu peninggalan sejarahnya. Apa saja peninggalan
sejarah tersebut? Peninggalan sejarah yang menjadi pusat perhatian di sini
adalah Istana Bogor. Istana ini dibangun pada zaman penjajahan Hindia Belanda
yang berfungsi sebagai kantor resmi Gubernur Jenderal VOC yang kini telah
diubah menjadi Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Inilah mengapa Kota Bogor
menjadi salah satu Kota yang paling diincar oleh banyak orang dan memiliki ciri
khas peninggalan sejarah kota ini.
Selanjutnya
saya akan membahas tentang masalah di Bogor terlepas dari karakteristiknya. Apa
sebenarnya masalahnya di sini? Saya akan membahas masing-masing topik ini satu
per satu. Salah satu faktor yang paling signifikan adalah hilangnya kapasitas
lahan pertanian. Pertumbuhan penduduk juga menyebabkan lahan bertambah seiring
waktu, sedangkan jumlah lahan yang tersedia tidak bertambah. Akibatnya,
mengubah penggunaan lahan bisa sulit jika digunakan untuk pertanian produktif.
Peningkatan produksi makanan dan barang-barang lingkungan, seperti pencahayaan
fungsional di lebih banyak ruangan, akan muncul dari hal ini.
Yang
kedua adalah banjir, terjadinya banjir dikarenakan curah hujan yang tinggi,
juga penggunaan lahan yang tidak terkondisikan menyebabkan lahan drainase
berkurang sehingga Tata guna yang tidak teratur memperumit masalah drainase di
perkotaan.
Terjadinya
banjir juga salah satu penyebabnya adalah perubahan lahan alami yang digunakan
untuk daerah resapan air hujan yang justru dibangun infrastruktur seperti gedung
gedung, dan perkantoran yang menyebabkan berkurangnya daerah tampungan air
hujan dan meningkatnya permukaan kedap air.
Terlepas
dari isu isu yang terjadi. Dari segi geografi, Kota Bogor terletak di antara
garis lintang 1060 48' BT dan 60 26' LS. Lokasinya di provinsi Bogor dan dekat
dengan ibu kota Indonesia menjadikannya potensi strategis untuk pertumbuhan
ekonomi dan penciptaan lapangan kerja serta pusat inisiatif nasional yang
berkaitan dengan perdagangan, industri, pariwisata, transportasi, dan
komunikasi.
Penduduk
Kota Bogor pada tahun 2013, terdapat sekitar 1.013.019.- jiwa yang terdiri dari
514.797 dewasa dan kurang lebih 498.222 anak-anak dan kepadatan penduduknya 8.549
jiwa per km2. Kalau dibandingkan dengan tahun 2012, dengan luasnya wilayah
118,50 km2. Jumlah masyarakat Kota Bogor meningkat sekitar 8.188 jiwa atau
sekitar 0,81%. Berdasarkan hasil survei nasional ketenagakerjaan, pada tahun
2013 terdapat sekitar 749.031 orang yang bekerja untuk periode 15 tahun ke
atas. Dari seluruh pekerja sekitar 447.484 orang dipekerjakan dan kurang lebih
403.628 orang bekerja sebagai pekerja, sedangkan sekitar 43.856 orang adalah
pengangguran.
Secara
umum Kota Bogor terletak antara 190 dan 330 meter dari titik terdekat dengan
daratan. Suhu bulanan tertinggi dan terendah
di Kota Bogor pada tahun 2013 masing-masing sebesar 31,66 °C dan 22,77 °C. Curah hujan terbesar terjadi pada bulan pertengahan
yaitu Mei dan September tahun 2013, dengan rata-rata curah hujan bulanan antara
333,0 dan 630,2 mm.
Kota Bogor memiliki Luas Wilayah sebesar 11.850 Ha dengan 68 Kelurahan dan
6 Kecamatan dan Kota Bogor mempunyai batas batas wilayah yang secara
administratif sebagai berikut :
Sumber
: https://petatematikindo/KotaBogor/
a.
Arah
Utara berbatasan dengan dan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Kemang, Bojong
Gede Kabupaten Bogor.
b.
Arah
Timur berbatasan dengan Kecamatan Ciawi,
dan Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor.
c.
Arah
Barat berbatasan dengan Kecamatan Ciomas, dan Kecamatan Darmaga Kabupaten Bogor
d.
Arah
Selatan berbatasan dengan Kecamatan Caringin, dan Kecamatan Cijeruk Kabupaten
Bogor.
Hanya sebagian kecil wilayah di
sekitar Kota Bogor yang memiliki kemiringan 15 sampai 30%; kemiringan lereng di
Kota Bogor antara 0 sampai dengan 15%. Jenis tanah yang digunakan di
masing-masing daerah adalah latosol coklat kemerahan, yang memiliki tekstur
tanah halus yang rentan terhadap erosi dan tinggi efektif tanah minimal 90 cm.
Karena Bogor terletak di tengah-tengah antara Gunung Salak dan Gunung Gede,
orografinya mungkin akurat. Angin laut wilayah Laut Jawa melewati perbukitan di
wilayah Bogor dan kemudian menghilang, memungkinkan uap air secara bertahap
mengembun dan berubah menjadi hujan. Kota ini dikenal sebagai "Kota
Hujan" karena menerima 70% curah hujan setahun, atau kira-kira setiap
hari.
Gambar Peta Topografi Kota Bogor Sumber : https://petatematikindo.com.
Kota Bogor yang juga dikenal dengan Kota Hujan ini terletak di dekat beberapa sungai, antara lain Sungai Cisadane, Ciliwung, Cipakancilan, Cidepit, dan Cibalok yang semuanya dianggap aman dari banjir, maka wajar jika Kota Bogor adalah tempat yang aman.
Selanjutnya,
mengenai RTRW Kota Bogor akan saya bahas disini. Menurut Peraturan Daerah tentang Penataan
Ruang Kota Bogor pada Tahun 2011-2031 Pasal 2-3 disebutkan bahwa tujuan RTRW
Kota Bogor yaitu mengembangkan tata ruang dengan lingkungan sekitar yang ramah
dan baik serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Kedudukan
RTRW Kota Bogor menjadi tolak ukur untuk:
a. Susunan
rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), rencana kerja pemerintah
daerah (RKPD), dan rencana sektoral lainnya;
b. Membuat
rencana yang rinci pada tata ruang;
c. Penetapan
lokasi dan tujuan ruang untuk penanaman modal;
d. Penetapan
letak dan manfaat ruang untuk kawasan strategis;
e. Mewujudkan keserasian pembangunan antar wilayah yang berdekatan.
Perwujudan keterpaduan dan pemerataan pembangunan di
setiap WP. Adapun RTRW Kota Bogor meliputi:
a.
Tujuan,
pedoman, & rencana tata ruang kota;
b.
Perencanaan
tiang uang untuk wilayah kota;
c.
penetapan
kawasan yang strategis;
d.
ruang
wilayah kota;
e. arahan fungsi atau pemanfaatan ruang kawasan.
Rencana perluasan atau pengembangan sistem drainase yang dimaksud dalam Pasal 31 huruf e diuraikan dalam Pasal 36 yaitu:
a. Menciptakan dan memelihara sistem drainase mikro juga makro;
b. Melindungi daerah sekitar jaringan pada drainase makro yang berasal dari kegiatan konstruksi;
c. Meningkatkan keterlibatan masyarakat pada rehabilitasi & pemeliharaan infrastruktur drainase;
d. Pengaturan pemanfaatan tata ruang pada daerah rawan banjir juga genangan, khususnya di Kabupaten Bogor Utara dan Kabupaten Tanah Sareal.
Selain itu, dalam Pasal 7 Sistem prasarana sarana umum yang dimaksud pada ayat (1) huruf e dapat ditingkatkan kualitas dan cakupan pelayanannya dengan menerapkan strategi sebagai berikut:
a. Penyediaan fasilitas lingkungan pada setiap kegiatan sesuai dengan fungsi, fungsi kawasan dan hierarki layanan;
b. Membangun jaringan sumber daya air;
c. Meperluas sistem infrastruktur drainase;
d. Memajukan pengelolaan sampah dengan baik;
e. Mengembangkan sistem jaringan air minum;
f. Mengembangkan jaringan energi listrik;
g. Mengembangkan jaringan telekomunikasi;
h. Mengembangkan jaringan gas; dan
i. Meningkatkan infrastruktur pengelolaan sampah.
Pada
penjelasan dan informasi di atas Pemerintah Kota Bogor telah diberikan rencana
dan strategi yang berbeda dalam peraturan tersebut di atas untuk menata kota
sedemikian rupa sehingga akan meningkatkan penampilannya di masa depan dengan
tetap mempertimbangkan tujuan dan manfaat dari berbagai aspek. Akan tetapi,
rencana-rencana di atas bagi saya tampak lambat mengingat rencana pemerintah
yang tidak pernah berakhir itulah yang melahirkan RTRW di atas, dan menurut
saya Kota Bogor masih sangat jauh dari keberhasilan mengelola kota.
Untuk
mengatasi masalah banjir di Kota Bogor, menurut saya, usulan pemerintah untuk
mengembangkan dan memperbaiki sistem drainase di kota ini masuk akal dan bisa
dilakukan. Sebaliknya, seperti yang kita lihat. Pembangunan hotel, rumah, dan
infrastruktur yang sedang berlangsung di dekat daerah pegunungan menghambat
upaya pemerintah untuk memperluas dan memperbaiki sistem drainase. Ini berbeda
dengan rencana awal pemerintah. Mengapa ini terus terjadi? Dan langkah apa yang
akan diambil pemerintah untuk mengatasi masalah ini ke depan? Sementara itu,
jumlah konstruksi yang menyusutkan area drainase meningkat.
Pemerintah
harus menyadari hal ini dan segera mengambil tindakan tegas. Karena jika terus
seperti itu akan membuat kondisi Kota Bogor semakin parah.
Namun,
kita sebagai masyarakat juga turut bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan
yang terjadi. Sampah yang dibuang sembarangan juga masih banyak terjadi tanpa
sadar asyarakat kurang peduli terhadap sampah, terutama di sekitar sungai
Ciliwung. Kita harus waspada dengan dampak yang akan terjadi. Mungkin sebagian
orang menganggap biasa saja, pola pikir seperti ini harus dihilangkan.
Kurangnya kesadaran masyarakat dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Kita
masing-masing harus berkewajiban untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya
menjaga lingkungan.
Demikian
yang dapat saya sampaikan dalam analisa saya tentang kota Bogor. Diharapkan ke
depannya, kota bersejarah ini dapat berkembang lebih tertib dan lebih sesuai
dengan rencana pemerintah kota.
DAFTAR PUSTAKA
Fajarini, R., Barus, B., Dyah, D., Panuju, R., Program,
A., Ilmu, S., & Wilayah, P. (2015). Dinamika Perubahan Tata Guna Lahan dan
Prediksi 2025 Serta Kaitannya dengan Penataan Ruang Tahun 2005-2025 di
Kabupaten Bogor. 17(1), 8-15. http://glovis.usgs.gov/
Karim, M. al, Utomo, G. J., & Fauziah, B. (2019).
Kualitas Hidup dan Pertumbuhan Ekonomi, Studi Kasus DKI Jakarta dan Daerah Penyangganya. Jurnal Pembangunan Wilayah
& Kota,
15(3).
https://doi.org/10.14710/pwk.v1513.22287
PERDA_NO_8 TAHUN_2011_. (n.d.).
Sadewa, T. (2018). Kajian Sistem Drainase di Daerah Jalan
Pemuda, Kota Bogor (Study of System in Pemuda Street, Bogor City) (Vol. 03,
Issue 03).
Utami, F. A., Rini, D., Firdaus, S., Martha, L. P.,
& Korespondensi, S. (2020). Efektifitas Kampanye
Progam
Bogor Tanpa Kantong Plastik Dalam Membangun Kepedulian Masyarakat
Pada Lingkungan.
Jurnal Penelitian Sosial Ilmu Komunikasi, 4(2), 68-77.
https://journal.unpak.ac.id/index.php/apik



Komentar
Posting Komentar